Prof Syahrizal Abbas: Konsep BEREH Adalah Nilai Ajaran Syariah

Laporan: Admin author photo
Prof Syahrizal Abbas: Konsep BEREH Adalah Nilai Ajaran Syariah
Dok. Ist


AcehPress.com, ACEH TENGAH | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas MA menjadi penceramah pada Safari Ramadhan Dinas Pendidikan Aceh di Masjid Al-Muhajirin, Gampong Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (17/4/2021). Ceramah itu disampaikan sesuai menjalankan ibadah shalat Tarawih dan Witir di masjid tersebut.

Rombongan Dinas Pendidikan Aceh dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Alhudri MM didampingi para pejabat Eselon III, dan IV di lingkup Dinas Pendidikan Aceh.

Seperti diketahui, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes mengatakan, pelaksanaan tausiah Safari Ramadhan Pemerintah Aceh akan digelar secara serentak pada hari kelima puasa atau pada Sabtu malam (17/4/2021) di 54 masjid yang tersebar di setiap kabupaten/kota di Aceh.

Di awal ceramahnya, Prof Syahrizal Abbas tidak lupa menyampaikan salam dari Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah MT dan Sekda Aceh Taqwallah kepada masyarakat Gampong Paya Tumpi, Kabupaten Aceh Tengah.

Prof Syahrizal Abbas, dalam ceramahnya mengajak para jamaah untuk senantiasa memanfaatkan bulan Ramadhan dengan penuh ibadah, tentunya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Melaksanakan shalat fardhu, shalat sunnah, zikir, berdoa, dan kita i`tikaf adalah ibadah _mahzah_ atau ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Tapi disamping itu, ibadah _ghairu mahzah_ juga tidak boleh ditinggalkan, karena ibadah ini menyangkut dengan kehidupan orang lain, kehidupan masyarakat, dan kehidupan publik, untuk saling membantu, mengingatkan dan saling mendorong kepada kebaikan, itu semuanya juga ibadah.

“Jadi jagaan hanya ibadah mahzah semata di bulan Ramadhan, tapi ibadah ghairu mahzah pun juga harus lebih banyak dilakukan,” katanya.

Memberi makan kepada orang berbuka puasa, memberi sedekah, dan membersihkan lingkungan sehingga terlihat Bersih, Rapi, Estetis, dan Hijau (BEREH) itu sebenarnya ajaran Alquran dan Sunnah. 

Karena, kata Prof Syahrizal, Alqur`an memerintahkan hambanya untuk selalu dalam keadaan bersih, itu semua adalah ajaran Alquran. Di dunia, kata Syahrizal Abbas, orang yang paling bersih kehidupannya adalah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW, di rumah bersih, di masjid bersih, itulah contoh bersih yang ditampilkan oleh ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Jadi kalau ada program Pemerintah Aceh yang mengajak kita untuk bersih sebetulnya itulah pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan kita,” kata Syahrizal Abbas.

Sebab dalam firman Allah kata Syahrizal, sesungguhnya Allah SWT itu cinta kepada orang yang taubat dan orang yang bersih dan suci. Untuk itu jika mau dekat dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, maka syaratnya harus bersih. Bersih pakaian, bukan berarti harus pakaian mahal, bersih tempat tidur bukan berarti harus luar biasa seperti tempat tidur raja.

Kemudian hijau, juga merupakan ajaran Alquran. Allah dalam firmannya memerintahkan kepada kita agar tidak membuat kerusakan di muka bumi dengan eksploitasi besar-besaran, tebang hutan besar-besaran, sehingga alam menjadi gersang.

Begitupun, Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga pernah memerintahkan umatnya untuk menanam pohon. “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apa bila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat, maka hendaklah dia menanamnya,”.

Oleh karena itu, orang yang berpuasa adalah orang yang konsisten menjalankan ajaran Allah dan Rasul, dia bersih, estetis dan menanam pepohonan adalah ciri orang yang bertakwa.

“Rupanya konsep bersih, rapi, estetik, dan hijau adalah nilai ajaran syariah dan itu adalah ciri orang yang bertakwa,” kata Prof Syahrizal.

Pada kesempatan itu, Prof Syahrizal juga mengatakan bahwa selain bersih, rapi, estetis, dan hijau ciri orang muttaqin lainnya adalah orang yang saat mendapatkan informasi, dia akan selalu melakukan kroscek kebenarannya. 

Karena baik ajaran agama maupun hukum negara melarang penyebaran informasi bohong maupun fitnah (hoax), sebab fitnah itu dampaknya berbahaya sekali. Oleh karena itu Alqur`an mengatakan bahwa Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

“Orang yang berpuasa ketika mendapat informasi dari mana saja maka orang tersebut akan memeriksa, dia akan kroscek dari mana informasi itu, betulkan informasi itu? Kalau tidak jangan sebarkan kepada orang lain, karena resiko itu besar. Fitnah itu besar sekali dampaknya,” kata Prof Syahrizal.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan betapa berbahayanya pengaruh informasi bohong. Prof Syahrizal menuturkan, di banyak peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah tentu ada yang menang dan ada juga yang kalah. Salah satu faktor kekalahan karena munculnya informasi bohong seperti peristiwa Perang Uhud.

Oleh karena itu, ketika mendapat informasi mengenai Covid-19 mengenai masker, harus dilakukan kroscek untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Apalagi, orang yang berpuasa tidak akan pernah menyebarkan berita bohong kepada orang lain karena itu akan mengurangi nilai ibadah puasanya.

“Mengenai Covid-19 itu fakta, bukan hanya di tempat kita, bahkan di dunia internasional secara kasat mata kita melihat bahwa itu ada. Dan resikonya sudah banyak orang yang meninggal dunia. Maka jika ada yang bilang tidak ada Covid-19, maka itu tidak lagi sejalan dengan fakta yang ada dihadapan kita,” ujar Prof Syahrizal.

Oleh karena itu, gerakan BEREH dan penerapan protokol kesehatan dapat mencegah penularan Covid-19, karena kewajiban setiap orang berpuasa itu untuk berikhtiar agar tidak terkena Covid-19. Mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati.

Begitupun terkait Vaksin, menurut Prof Syahrizal Abbas, vaksin adalah alat yang paling ampuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh, jadi kalau ada yang mengatakan dibuat dari lemak babi maka itu adalah hoax. 

Sebab, katanya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah melakukan kunjungan ke tempat vaksin Sinovac diproduksi, hasilnya tidak ditemukan adanya unsur dari barang-barang haram. Begitupun Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga telah menfatwakan bahwa vaksin hukumnya halal.

“Maka Vaksin untuk Covid-19 itu hukumnya halal, jadi tidak usah takut, kenapa tidak usaha takut karena fatwa itu sudah dikeluarkan bahwa vaksin Covid-19 hukumnya halal, pertimbangannya demi untuk menyelamatkan jiwa manusia,” tutup Prof. kata Syahrizal. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini