Pojok Baca Gampong Langkah Konkret DPKA untuk Mengatasi Rendahnya Minat Baca di Aceh

Laporan: REDAKSI author photo
Banda Aceh – Seperti yang diungkapkan dalam pepatah, buku adalah pintu gerbang dunia atau jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan mendapatkan inspirasi yang lebih luas.

Namun, belakangan ini kegiatan membaca buku telah banyak terabaikan oleh berbagai kalangan, dengan alasan kesibukan atau karena ketersediaan media lain yang dianggap lebih praktis untuk mendapatkan informasi, seperti televisi, radio, dan internet.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2022, tingkat minat membaca di masyarakat Indonesia secara keseluruhan mencapai skor 3,49, berada pada level sedang. Sementara di Aceh, tingkat minat membaca mencapai skor 3,57. Namun demikian, dibandingkan dengan daerah lain, minat membaca di Aceh masih tergolong rendah.

Oleh karena itu, pemerintah pusat maupun daerah dituntut untuk meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat, baik melalui sosialisasi maupun langkah-langkah konkret yang dapat mendorong minat baca.

Di Aceh, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) bertanggung jawab dalam meningkatkan literasi baca. Meskipun Aceh masuk dalam 10 besar tingkat membaca di Indonesia, DPKA terus berupaya meningkatkan kesadaran membaca di kalangan masyarakat Aceh.

Salah satu inisiatif yang diambil adalah pendirian pojok baca di beberapa gampong di Aceh, yang dilakukan bekerja sama dengan perangkat gampong setempat. Program ini merupakan bagian dari kerjasama antara perpustakaan pusat, perpustakaan daerah, dan perpustakaan desa.

Menurut Edi Yandra, Kepala DPKA, perpustakaan gampong tidak hanya menyediakan buku-buku pinjaman, namun juga merupakan tempat inklusi sosial yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Buku-buku yang disediakan juga disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di setiap gampong, seperti buku tentang pertanian, teknik budidaya, buku anak-anak, dan lainnya.

Selain itu, perpustakaan gampong juga memiliki pusat data tentang produk-produk potensial dan hasil dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Dengan demikian, setiap pengunjung dapat memperoleh informasi detail tentang gampong tersebut.

Saat ini, sudah ada delapan kabupaten dan kota di Aceh yang mendapat dukungan perpustakaan gampong, dilengkapi dengan rak buku, meja baca, dan perangkat keras lainnya. Namun, upaya untuk meningkatkan literasi tidak berhenti di situ. DPKA juga akan mendirikan pojok baca di tempat-tempat umum yang ramai dikunjungi, seperti kafe, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya.

Selain menyediakan buku-buku, DPKA juga telah menyiapkan pojok bagi 10 komunitas literasi di gedung baru perpustakaan. Ini bertujuan untuk mewujudkan perpustakaan inklusi sesuai dengan arahan perpustakaan nasional di Jakarta.

Edi Yandra menekankan pentingnya kolaborasi dengan para pegiat literasi dalam mengontrol minat baca masyarakat. Sebagai langkah konkret, DPKA telah mengumpulkan 43 pegiat literasi di Aceh untuk bersama-sama memajukan perpustakaan Aceh.

Selain upaya tersebut, DPKA terus membenahi fasilitas di gedung pelayanan Perpustakaan Aceh, bahkan merencanakan pembuatan garden library di lantai tiga gedung tersebut. Garden library ini akan didesain dengan rumput sintesis dan menyediakan minuman serta makanan agar pengunjung dapat menikmati suasana yang nyaman sambil membaca buku.

Dengan langkah-langkah tersebut, DPKA berharap dapat meningkatkan minat baca masyarakat Aceh serta menciptakan lingkungan yang mendukung dalam membangun literasi di wilayah tersebut. (Advertorial)
Share:
Komentar

Berita Terkini